Dewa dan Dewi Dalam Tradisi Celtic – Bagian 2

Semua suku Bangsa Celtic memiliki suatu kepercayaan yang sama dalam kehidupan sehari-hari, mereka percaya bahwa setiap tindakan, perbuatan baik dan hubungan antara manusia atau alam semesta bersifat relijius. Tidak ada perbedaan antara pekerjaan, tindakan sehari-hari dengan ritual keagamaan. Karena semua hal bersifat spiritual bagi mereka. Setiap kejadian dan tindakan, mulai dari bangun pagi saat merasakan hangatnya matahari sampai saat menyiapkan makanan adalah sebuah blessing atau keberkatan bagi mereka.

Selain memuja para dewa dewi lokal setempat, mereka juga memuja dewa dewi utama yang memiliki kekuasaan lebih besar dari para dewata lokal mereka. Raja-raja setempat sering menikah dengan para dewi kepercayaan setempat melalui ritual dan upcara khusus yang dilakukan secara simbolis. Kesejahteraan para rakyat dipengaruhi dengan hubungan antara Dewi dan Raja yang menikahinya. Seorang raja hanya sekuat hubungannya dengan dewi, yang menyediakan kebutuhan rakyatnya.

Ungkapan kata “Dewi” sering diasosiasikan dengan kecantikan, pribadi yang lembut dan baik hati. Namun dalam kepercayaan Celtic seorang Dewi memiliki kuasa yang cukup menyeramkan karena meliputi kuasa atas kehidupan, kematian, kesuburan seksualitas, takdir dan kelahiran kembali. Sang Dewi dapat muncul dengan wujud yang cantik dan mempesona, namun ia juga dapat menunjukkan sisi gelapnya kepada mereka yang melawan aturan yang telah dibuatnya.

Disebutkan banyak, seperti Dewi Irlandia Morrigan yang memiliki 3 sisi karakter, angka 3 merupakan angka yang suci atau keramat dalam budaya Celtic. Para dewi yang memiliki tiga sisi karakter ini sering melambangkan Gadis, Ibu, dan Nenek. 3 sisi karakter lainnya seperti Kesuburan, Kematian, dan Kelahiran Kembali; atau Penghancur, Pencipta, dan Pemelihara. Relik-relik purba sering menggambarkan ketiga wajah para dewi ini atau kehadiran dari tiga sisi karakter mereka. Beberapa dewi, seperti Dewi Perawan (Seperti Dewi Athena, Yunani), adalah Penyembuh dan sekaligus Prajurit. Sebagaimana mitologi Timur berbicara tentang yin dan yang, unsur-unsur positif dan negatif yang menciptakan keseimbangan, begitu juga kekuatan para dewi; kedua-duanya kreatif dan destruktif, yang satu tidak eksklusif dari yang lain.

Ibu dari Para Dewi, Dewi pra-Celtic yang secara umum dipuja di seluruh Eropa, adalah tokoh pusat dalam mitologi klasik; dialah Si Pemberi dan Si Pengambil Kehidupan, Berkuasa atas Kelahiran, Perjodohan, dan Kematian. Di Irlandia, ada sebuah yang bernama Tuaha De Danann memiliki arti Anak anak Dewi Danu. Suku-Suku Bangsa Celtic Jaman Purba sering menganggap para Dewi sebagai Madron, yang berarti “Ibu.”