Dewa dan Dewi Dalam Tradisi Celtic – Bagian 3
Dalam budaya Celtic, para Dewi memainkan peran vital dalam legenda dan mitos, mereka sering dianggap lebih penting daripada mitra-mitra pria mereka (para dewa). Mereka dianggap lebih berkuasa, bahkan dapat berganti-ganti kekasih sesuai dengan kebutuhan mereka atau apabila ada seorang raja yang baru ditetapkan di negeri itu.
Dari para Dewa yang besar, Cernunnos, dewa binatang, diakui sebagai dewa pemburu dan hewan, berkuasa atas hidup dan mati, memberi dan mengambil energi yang tersedia dari alam. Ia juga dianggap sebagai Penjaga Pintu Gerbang ke Dunia Bawah. Karena Dewa Cernunnos dianggap penting bagi bangsa Celt, kaum Kristen masa awal menggunakan citra pria bertanduk kambing jantan untuk merusak sejarah dan mempermalukannya sebagai iblis. Inilah sebuah stigma sikap negatif yang sampai sekarang masih berlaku di banyak kalangan agama.
Putra Ibu Agung, dikenal sebagai Putra Cahaya, adalah dewa yang legendaris, dipuja sebagai “sosok orisinal” dan dipandang sebagai tawanan maupun pembebas. Ia disebut dewa “perantara,” menawarkan dirinya demi kebaikan umat manusia. Waktu agama Kristen tiba, Kristus dipropagandakan sebagai illah yang sama untuk memudahkan proses transisi dari ritual yang dianggap kafir ke ritual agama Kristen.
Para prajurit yang gugur dan dianggap Pahlawan akan diangkat statusnya menjadi setara dengan Dewa setelah mereka mati. Salah satu Pahlawan yang diakui paling luas adalah Cú Chulainn, Pahlawan besar dari Ulster dan penjaga negeri yang suci dengan orangtua berasal dari kedua dunia. Mulai dari masa kanak-kanak, ia sudah ditakdirkan untuk membela dan melindungi bangsa-nya dengan kekuatannya, kearifannya, dan keberaniannya yang ajaib, bertarung sendiri melawan pasukan-pasukan tentara yang besar hanya dengan sebuah ketepel sebagai senjatanya.
Namun, bahkan seorang yang dianggap pahlawan besar seperti Cú Chulainn bisa tidak disukai lagi oleh seorang dewi jika ia tidak menghormati kekuasaan sang dewi itu. Cú Chulainn tidak menghargai Morrigan, “The Phantom Queen” dan Dewi Perang, ia membuat sang dewi marah yang mengakibatkan dicabutnya semua kekuatan dan energi besar yang dimiliki sang pahlawan, sehingga membuatnya lemah dalam pertempuran. Sikap tidak menghormati dan mengabaikan inilah yang menjadi penyebab utama dari kematiannya.
Para pahlawan adalah jembatan antara manusia dengan berkat-berkat kelimpahan dari para dewa dan dewi, untuk menerima kekuatan ajaib yang dapat mereka gunakan dalam pertempuran melawan iblis-iblis yang dalam legenda sering digambarkan sebagai monster, naga, dan makhluk-makhluk kegelapan. Seperti Bellerephon yang bertarung melawan monster berkepala tiga bernafaskan api menggunakan Pegasus kuda pemberian Dewi Athena kepadanya.
Hercales mengalahkan seekor naga berkepala seratus dan mengembalikan apel-apel emas kepada Atena, yang mengembalikannya ke taman-taman ajaib. Binatang atau monster ajaib dari mitologi Celtic, merepresentasikan daya/kekuatan energi atau kondisi spiritual yang menentang atau mengancam orang dan negeri itu sendiri.
Kaum wanita juga memegang peranan penting sebagai pahlawan dalam mitologi Irlandia. Morrigan, selain ketiga sisi karakternya, juga dikenal sebagai dewi prajurit perang yang hebat, sebagaimana juga Scatach, yang keterampilannya tanpa tanding dan menjadikannya pelatih dari banyak prajurit-prajurit muda.