Tyr Dewa Perang Penakluk Serigala Fenrir

Týr, sang dewa kemenangan bertangan buntung sebelah. Kemungkinan dia adalah salah satu dari anak-anak dewa Odin dan dewi Frigga yang tak terhitung jumlahnya. Namun dalam pupuh-pupuh Hymiskviða di “Poetic Edda”, Týr dikabarkan adalah anak dari Jötunn Hymír, raksasa kawan Thor saat memancing Jörmundgandr. Keberanian, kegigihan, dan pengorbanan Týr membuat dirinya disegani oleh para Æsir. Pada awalnya dewa Týr memiliki tangan utuh. Namun, suatu ketika Angerboda melahirkan seorang anak monster berwujud serigala yaitu Fenrir. Fenrir merupakan anaknya dewa Loki dan mewarisi sifat alami Loki yang sombong. Odin melihat Fenrir tumbuh begitu cepat dan tidak bisa diatur. Tidak ada satupun tali di Ásgardr yang dapat mengekang Fenrir. Odin khawatir jika Fenrir semakin besar akan membuat sembilan dunia terguncang dan tentunya membawa malapetaka untuk alam semesta. Odin meminta para kurcaci Dverģr untuk membuat sebuah tali super kuat dengan bahan-bahan di antaranya rerumputan dari pegunungan, nafas ikan, suara langkah kucing, urat otot beruang, jenggot seorang wanita, dan ludah burung. Setelah tali yang disebut Gleipnir itu jadi, Odin menanyakan siapa di antara para dewa yang sanggup mengikatkan Gleipnir ke tubuh Fenrir. Hanya dewa Týr yang menyanggupinya. Dalam usaha mengikat Fenrir, tangan kanan Týr termakan oleh Fenrir. Versi lain dari “Poetic Edda” dijelaskan bahwa Odin membujuk Fenrir untuk mau diikat. Fenrir yakin jika dirinya tidak akan bisa diikat dengan tali apapun. Namun dengan licik, Fenrir pura-pura takut diikat. Odin menjamin keselamatan Fenrir, tapi Fenrir tidak percaya. Sebagai jaminannya, Fenrir menawarkan dirinya mau diikat hanya apabila salah satu dewa mau meletakkan pergelangan tangannya di mulutnya. Dewa Týr menyanggupi tawaran tsb. Dan saat Fenrir mengibaskan tubuhnya, rupanya Fenrir gagal memutuskan Gleipnir. Fenrir pun menggigit pergelangan tangan kanan Týr hingga putus.

Meskipun peranan Týr dalam mitologi Nordik tidak begitu menonjol kecuali keberaniannya menghadapi Fenrir, namun Týr memiliki pengaruh lebih banyak terhadap kebudayaan daripada Thor dan Odin. Selain ID Kaskus TS yang berawal “tyr” terinspirasi dari Týr (

emoticon-Stick Out Tongue

), banyak nama-nama pria Eslandia dan Norwegia yang ber-suffix -týr, misalnya Angantýr, Bryntýr, Hjálmtýr, Hrafntýr, Sigtýr, Valtýr, dan Vigtýr. Berdasarkan rekonstruksi leksikologi, kata “týr” (dibaca secara non-rhotic menjadi tyu) adalah induk dari beberapa nama tempat dalam rumpun Bahasa Jermanik. Misalnya, nama-nama tempat yang sudah dikonfirmasi para ahli antropo-linguistik seperti:
– Dusun Tuesley di Inggris. Berasal dari kata Bahasa Inggris Kuna: tīwes lēah, “hutan/lahannya Tīw/Týr”.
– Kota Duisburg di Jerman. Berasal dari kata Bahasa Bohemia: zîes burg, “kotanya Zîe/Zīuw/Týr”.
– Kota Tisvilde di Denmark. Berasal dari kata Bahasa Nordik Kuna: týs vella, “musim seminya Týr”.
– Danau Tissø di Denmark. Berasal dari kata Bahasa Nordik Kuna: týs sær, “danaunya Týr”.
– Kota Thisted di Denmark. Berasal dari kata Bahasa Nordik Kuna: týs staðr[/], “tempatnya Týr”.
– Hutan Tylö di Swedia. Berasal dari kata Bahasa Nordik Kuna: [I]týs ley
, “persemayamannya Týr”.
– Hutan Tiveden di Swedia. Berasal dari kata Bahasa Nordik Kuna: týs viðr, “kayunya Týr”.
– Tanjung Tysnes di Norwegia. Berasal dari kata Bahasa Nordik Kuna: týs nes, “tanjungnya Týr”.

Selain nama tempat, nama Týr juga berpengaruh terhadap nama hari ketiga (selasa) dalam rumpun Bahasa Jermanik. Di antaranya yaitu:
– Bahasa Inggris: Tuesday, berasal dari Bahasa Inggris Kuna: tīwes dæģ dan Bahasa Saxon: tiuwes daģ, “harinya Tīw/Tiuw/Týr”.
– Bahasa Jerman: Dienstag, berasal dari Bahasa Bohemia: zîes dag dan Bahasa Jerman Pertengahan: dîes tag, “harinya Zîe/Týr”.
– Bahasa Skot: Tysday berasal dari Bahasa Inggris Kuna: tīwes dæģ, “harinya Tīw/Týr”.
– Bahasa Belanda: Dinsdag berasal dari Bahasa Frisia Barat: tiis dei, Bahasa Saxon Rendah: dings daģ, dan Bahasa Jerman Pertengahan: dîes tag, “harinya Ding/Týr”.
– Bahasa Faroe: Týsdagur, Bahasa Norwegia: Tysdag dan Tirsdag, Bahasa Denmark: Tirsdag, Bahasa Fin: Tiistai, Bahasa Swedia: Tisdag, dan Bahasa Eston: Teisipäev berasal dari Bahasa Nordik Kuna: týs daģr, “harinya Týr” atau dewa Týr dan dewa Daģr.

Adapun nama-nama hari dalam rumpun Bahasa Jermanik berasal dari Bahasa Proto-Jermanik dan Proto-Nordik, yang berhubungan dengan tradisi agama leluhur (kecuali hari sabtu yang berasal dari tradisi Kekristenan dan Yudaisme: “Hari Sabat/Yom Syabbat“). Adapun hari minggu juga dipengaruhi dari tradisi agama leluhur dan agama Hellenistik: “Hari Dewa Matahari (Sunna)”. Misalnya dalam Bahasa Inggris:
Sunday : “harinya Sonna/Sol/dewi Sól”.
Monday: “harinya dewa Mani”.
Tueday: “harinya dewa Týr”.
Wednesday: “harinya dewa Odin”.
Thursday: “harinya dewa Thor”.
Friday: “harinya dewi Frigga”.