Ishtar: Dewi Cinta, Perang dan Kesuburan

Di zaman sebelum sungai-sungai mengalir dan bintang-bintang diberi nama, ketika langit dan bumi masih saling menempel seperti dua cangkang kerang raksasa, para dewa purba berkumpul di Apsu, lautan air tawar yang tak bertepi. Dari kegelapan itu lahirlah Anu, langit itu sendiri, dan Ki, bumi yang subur. Dari pelukan mereka lahir Enlil, angin yang memisahkan langit dari bumi, dan dari napas Enlil yang panas muncullah tetesan embun pertama—cairan suci yang jatuh ke lumpur di tepi sungai Tigris dan Euphrates. Dari embun dan lumpur itulah Ishtar dilahirkan.

Para tetua Sumeria dan Akkadia mengisahkan bahwa Ishtar tidak dilahirkan seperti anak biasa. Ia bangkit dari tanah yang basah oleh embun langit, tubuhnya terbentuk dari lumpur merah yang sama yang kelak dipakai manusia untuk membuat batu bata kota-kota besar. Rambutnya hitam legam seperti malam tanpa bintang, matanya merah seperti darah kurban, dan di dadanya berdetak jantung yang berdenyut dua irama: satu irama cinta yang lembut seperti air sungai, satu lagi irama perang yang menggelegar seperti genderang perunggu. Ketika ia membuka mata untuk pertama kali, bintang pagi—yang kelak dinamai manusia sebagai Venus—menyala terang di ufuk timur, seolah langit sendiri memberi mahkota kepadanya.

Ishtar adalah dewi yang memadukan hal-hal yang tampak bertentangan. Ia adalah kesuburan—ia membuat gandum tumbuh tinggi, domba-domba beranak pinak, dan perempuan-perempuan hamil dengan mudah. Tetapi ia juga perang—ia memberikan kemenangan kepada raja-raja yang memujanya, dan senjata-senjata mereka menjadi tak terkalahkan di tangan prajurit yang membawa lambang bintang delapan sisinya. Ia adalah cinta yang membara, hasrat yang tidak pernah pudar, dan seksualitas yang merayakan tubuh sebagai kuil suci. Di kuil-kuilnya di Uruk, Babylon, dan Nineveh, para pendeta wanita yang disebut nad harimtu melayani jemaah dengan tubuh mereka, karena bagi mereka, hubungan suci adalah doa paling tulus kepada Ishtar.

Peran Ishtar dalam tatanan dunia sangat besar. Ia adalah penjaga keseimbangan antara kehidupan dan kematian, antara damai dan peperangan, antara hasrat dan pengendalian diri. Tanpa Ishtar, kesuburan akan lenyap, cinta akan menjadi dingin, dan perang akan menjadi kehancuran tanpa akhir. Ia adalah jembatan antara dunia atas dan dunia bawah, antara manusia dan dewa-dewa besar. Ia sering turun ke bumi dengan kereta perang yang ditarik tujuh singa emas, membagikan berkahnya kepada yang memuja dan kutukan kepada yang menghina.

Namun, reputasi Ishtar yang paling terkenal datang dari peristiwa besar yang diceritakan dalam lagu-lagu puisi panjang yang dihafal para penutur cerita di tepi api unggun: perjalanannya ke Kur, dunia bawah yang gelap, tanah tanpa kembali.

Suatu ketika, Ishtar merasa tersinggung karena kakak perempuannya, Ereshkigal—ratu dunia bawah—tidak pernah mengundangnya berkunjung. Dengan sombong khas dewi muda, Ishtar memutuskan untuk turun ke dunia bawah, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai penakluk. Ia mengenakan mahkota berkilau, kalung permata, gelang emas, dan pakaian kebesaran yang memamerkan keindahan tubuhnya. Di setiap gerbang Kur ada tujuh pintu, dan di setiap pintu ia harus menyerahkan satu perhiasan atau pakaiannya sebagai upeti. Ketika sampai di pintu ketujuh, Ishtar telah telanjang bulat—simbol bahwa bahkan dewi terkuat pun harus merendahkan diri di hadapan kematian.

Ereshkigal, yang sedang berduka karena kehilangan suaminya Gugalanna, marah melihat kedatangan Ishtar. Ia memerintahkan agar Ishtar digantung di dinding Kur seperti bangkai di rumah jagal. Tubuh Ishtar membusuk, dan seketika itu juga kesuburan lenyap dari dunia atas: tanaman layu, hewan berhenti beranak, dan manusia kehilangan hasrat cinta. Enki, dewa kebijaksanaan, prihatin melihat kekacauan ini. Ia menciptakan dua makhluk asexual—Galgallu dan Kurgarru—yang berhasil menyelinap ke Kur dan menghidupkan kembali Ishtar dengan air kehidupan dan makanan kehidupan.

Namun, hukum Kur tak bisa dilanggar: tak ada yang boleh keluar tanpa pengganti. Ishtar naik kembali ke dunia atas, tapi diikuti para gallu—iblis penagih nyawa. Ia mencari pengganti, dan tatapannya jatuh pada Tammuz (atau Dumuzi), kekasihnya sendiri, yang ternyata sedang berpesta pora sementara Ishtar menderita di dunia bawah. Dengan hati hancur tapi tegas, Ishtar menyerahkan Tammuz kepada gallu. Sejak itu, setiap tahun Tammuz harus turun ke Kur selama enam bulan, dan selama itu pula dunia mengalami musim kemarau—simbol duka Ishtar. Ketika Tammuz kembali, musim semi tiba, bunga-bunga mekar, dan cinta kembali membara.

Hubungan Ishtar dengan makhluk lain sangat kompleks. Dengan Anu dan Enlil ia hormat tapi tidak tunduk. Dengan Enki ia bersahabat, karena keduanya sama-sama cerdas dan licik. Dengan Ereshkigal ia bermusuhan, tapi juga saling menghormati sebagai dua sisi dari satu koin kehidupan. Dengan manusia, Ishtar sangat dekat—ia sering jatuh cinta pada pahlawan seperti Gilgamesh, yang akhirnya menolaknya dan membuat Ishtar marah hingga mengirim Banteng Langit untuk menghancurkan Uruk. Namun, penolakan Gilgamesh juga mengajarkan Ishtar tentang batas hasrat dan pentingnya penghormatan.

Secara simbolis, Ishtar mewakili dualitas kehidupan itu sendiri: cinta dan perang adalah dua sisi dari gairah yang sama. Kesuburan dan kematian saling bergantian seperti musim. Seksualitas bukanlah dosa, melainkan kekuatan ilahi yang harus dirayakan dengan penuh kesadaran. Bintang delapan sisinya—lambang Venus yang terlihat sebagai bintang pagi dan sore—mengingatkan bahwa hal-hal indah sering kali muncul dalam dua wajah: fajar dan senja, kehidupan dan kematian, damai dan badai.

Hingga kini, di antara reruntuhan kuil-kuil di Irak modern, para arkeolog masih menemukan patung-patung kecil Ishtar dengan tangan memegang payudara—simbol kesuburan—dan senjata di punggungnya—simbol perang. Orang-orang tua di desa-desa dekat sungai Eufrat masih berbisik pada malam hari: “Jika kau melihat bintang terang di timur sebelum fajar, itu Ishtar sedang tersenyum. Tapi jika kau mendengar genderang perang di kejauhan, itu juga Ishtar—karena cinta dan perang adalah napas yang sama dari dewi yang tak pernah tidur.”

Demikianlah warisan mitos Ishtar, diwariskan dari mulut ke mulut, dari batu bata Uruk kuno hingga tablet tanah liat di perpustakaan Ashurbanipal, dan kini masih hidup dalam cerita yang kita dengar di malam berbintang: bahwa hidup ini indah justru karena ia penuh kontradiksi, dan bahwa dewi yang mengajarkan kita untuk mencintai dengan ganas, bertempur dengan penuh gairah, dan merayakan tubuh kita sebagai kuil suci, adalah Ishtar—bintang pagi, ratu langit, dan jiwa abadi Mesopotamia.