Hel, Fenrir, Jormundgandr Tiga Raksasa Anak Dari Dewa Loki
Hel, Fenrir, dan Jörmundgandr adalah trio Jötnar anak-anaknya dewa Loki dengan raksasa wanita kayu-besi Angerboda. Mereka bertiga lahir di Jötunheimr dan ditemukan oleh para dewa. Dewa Odin menyadari ketiganya membawa sifat alami Loki dan akan menjadi bencana bagi seluruh dunia. Akhirnya dewa Odin memutuskan untuk mengasingkan mereka.
Jörmundgandr

Pertama yang diasingkan adalah Jörmundgandr yang membawa sifat licik Loki secara alami. Jörmundgandr adalah ular naga raksasa Jötunn yang hakikatnya hidup di air sehingga Odin melemparnya ke laut di Midgard. Dia tumbuh dewasa dengan cepat, mungkin panjangnya meliputi seluruh lautan di Midgard.
Dia cukup kuat, kibasan ekornya saja dapat membuat ombak di lautan. Ketika Jörmundgandr ngamuk, sekonyong-konyong terjadi badai besar di lautan. Pada pra-Periode Viking, banyak kapal-kapal penjelajah Vikingár terkena badai, tak sedikit yang tenggelam, terutama penjelajahan laut ke barat. Konon, pelakunya adalah Jörmundgandr. Karena “pasokan” martir dan einherjar berkurang di Valhalla dan Folkvangr akibat banyaknya para pejuang Vikingár tewas dalam badai (bukan terbunuh dalam pertempuran), maka Thor menjadi jengah.
Thor turun ke Midgard dan memancing Jötmundgandr. Versi lain, dari puisi Hymiskviða di “Prose Edda” menyebutkan bahwa sebenarnya bukan salah Jörmundgandr, tapi Thor. Jörmundgandr adalah musuh bebuyutan Thor, Thor sangat berambisi untuk membunuhnya.
Thor turun ke Midgard dan memancing Jörmundgandr keluar. Saat Jörmundgandr keluar, badai terjadi. Thor langsung menghajarnya dengan palu Mjölnir-nya. Itulah sebabnya setiap ada badai pasti juga diiringi petir yang merupakan efek dari kekuatan Mjölnir. Semua usaha Thor untuk membunuh Jörmundgandr gagal, namun kelak pada perang akhir zaman Ragnarök, Thor berhasil membunuhnya.
Hel

Kedua adalah Hel, yang membawa sifat pembawa kesialan Loki secara alami. Tentu saja pembawa sial karena Hel adalah wanita raksasa Jötunn yang pemalas, senang berleha-leha. Dia dibuang ke Niflheimr oleh Odin, alasannya karena tidak ada satupun yang bisa keluar dari Niflheimr, kecuali dengan melalui Jembatan Bifröst.
Dewa Odin berharap Hel tidak dapat keluar dari Niflheimr dan menimbulkan kesialan. Dia bersosok seperti wanita tua/wanita dingin, bertampang datar, pemalas, dan bungkuk karena tidak pernah beranjak dari singgasananya. Hel memelihara anjing astral bermata empat yang bernama Garmr yang kemudian menjaga istananya.
Hel kemudian membangun koloninya di bagian bawah Niflheimr yang kemudian disebut Helheimr dan bersemayam di istana gelapnya Eldjudnír (dingin pekat). Adapun meja makannya disebut Gradr (serakah) dan pisaunya disebut Stjarfadnír (kelaparan/penderitaan). Sementara itu, singgasananya tempat dia duduk dan tidur disebut Sótt (pesakitan) dan ruangan tempat dia bersemayam disebut Böl (kemalangan).
Dari 10 sungai besar di Niflheimr yang beku dan berkabut, salah satunya bermuara ke gerbang Helheimr yang disebut Gerbang Gjöll. Karena pada dasarnya Helheimr berada di kompleks Niflheimr, maka beberapa arwah manusia yang mati (non-martir) akan muncul di antara Niflheimr dan Helheimr.
Jika sedang sial, arwah tsb muncul di Helheimr dan hidup bersama Hel. Sejumlah hipotesis abad 19 menyatakan bahwa Helheimr mungkin khusus bagi mereka yang tidak pernah ikut berperang. Pada hakikatnya, martir dan einherjar muncul di Valhalla atau Folkvángr.
Sementara jika seseorang mati dalam keadaan tidak sedang berperang (sakit, tua, kecelakaan) namun ybs pernah ikut-serta dalam sebuah perang, ybs akan muncul di Niflheimr dan menjadi pasukan para Raksasa Frost. Sementara jika ybs tidak pernah ikut-serta dalam peperangan sama sekali, ybs akan muncul di Helheimr dalam keadaan terkurung (hal ini pernah dialami oleh dewa Balder, sang dewa cinta-kasih dan perdamaian yang tidak pernah perang).
Menjelang perang akhir zaman Ragnarök, Hel menawan Balder. Yang menarik adalah frase Bahasa Inggris “go to hell!” (pergilah ke neraka!/matilah!) adalah frase yang sering pula dijumpai pula dalam rumpun Bahasa Jermanik.
Konon pada mulanya berasal dari kebudayaan Jermanik/Nordik sebagai kalimat sarkastik: “pergilah (menuju) Hel”, cemoohan bagi para pecundang dan pemalas. Karena siapapun yang mati lalu pergi menghadap Hel (bukan ke Valhalla) adalah para pecundang dan pemalas saja yang tidak pernah ikut-serta dalam peperangan.
Fenrir

Ketiga adalah Fenrir, yang membawa sifat sombong Loki secara alami. Fenrir berwujud serigala raksasa. Tidak ada tempat yang cocok untuk Fenrir, di dunia manapun keberadaannya mengancam keselamatan dunia tsb. Yang mengkhawatirkan adalah tubuhnya yang cepat bertumbuh dewasa, sudah berkali-kali dia diikat dengan tali namun dia selalu berhasil memutus tali apapun yang menjeratnya.
Odin melihat Fenrir tumbuh begitu cepat dan tidak bisa diatur. Tidak ada satupun tali di Asgard yang dapat mengekang Fenrir. Odin khawatir jika Fenrir semakin besar akan membuat sembilan dunia terguncang dan tentunya membawa malapetaka untuk alam semesta.
Odin meminta para kurcaci Dverģr untuk membuat sebuah tali super kuat dengan bahan-bahan di antaranya rerumputan dari pegunungan, nafas ikan, suara langkah kucing, urat otot beruang, jenggot seorang wanita, dan ludah burung.
Setelah tali yang disebut Gleipnir itu jadi, Odin menanyakan siapa di antara para dewa yang sanggup mengikatkan Gleipnir ke tubuh Fenrir. Hanya dewa Týr yang menyanggupinya. Dalam usaha mengikat Fenrir, tangan kanan Týr termakan oleh Fenrir.
Versi lain dari “Poetic Edda” dijelaskan bahwa Odin membujuk Fenrir untuk mau diikat. Fenrir yakin jika dirinya tidak akan bisa diikat dengan tali apapun. Namun dengan licik, Fenrir pura-pura takut diikat. Odin menjamin keselamatan Fenrir, tapi Fenrir tidak percaya.
Sebagai jaminannya, Fenrir menawarkan dirinya mau diikat hanya apabila salah satu dewa mau meletakkan tangannya di mulutnya. Dewa Týr menyanggupi tawaran tsb. Dan saat Fenrir mengibaskan tubuhnya, rupanya Fenrir gagal memutuskan Gleipnir. Fenrir pun menggigit tangan kanan Týr hingga putus. Di kandangnya, Fenrir melahirkan 2 ekor serigala ular kembar bernama Sköll dan Hati yang sangat berambisi untuk memakan dewi Sól dan dewa Mani.
Kelak pada perang akhir zaman Ragnarök, Fenrir akan lepas dari jeratan Gleipnir dan memburu dewa Odin. Odin pun gugur dalam pertempuran itu, lalu Vidarr (anaknya dewa Odin) membalaskan dendam kematian ayahnya dan berhasil membunuh Fenrir.