Dewi Ashera

Pada mulanya, sebelum waktu dihitung, dunia hanyalah kekosongan kelabu. Dari kedalaman itu, muncullah Ashera, Sang Bunda para Dewa. Ia mekar bagaikan teratai di atas air kekacauan, membawa cahaya dan bentuk ke alam semesta. Sebagai Sang Penenun Agung, ia menghubungkan langit yang jauh dengan bumi yang dalam.

Di pusat dunia, Ashera menanam Pohon Dunia, yang dahan-dahannya menyentuh bintang dan akar-akarnya meminum kebijaksanaan. Dari tubuhnya, ia melahirkan para dewa dan menciptakan keindahan sebagai perlawanan terhadap kehampaan.

Namun, bangkitlah Mot, Sang Pelahap, yang menginginkan keheningan maut. Ia membawa kekeringan untuk mengubah taman Ashera menjadi debu. Saat dunia mulai layu dan dewa-dewa lain ketakutan, Ashera melakukan pengorbanan tertinggi. Ia tidak melawan maut dengan kekerasan, melainkan dengan ketangguhan.

Ashera melarutkan wujud dewinya ke dalam tanah. Ia menyatu dengan akar, menjadi getah yang menghidupi, dan mengubah air mata dunia menjadi energi kehidupan. Setiap kali Mot mencoba menghancurkan sebuah dahan, esensi Ashera menumbuhkan sepuluh tunas baru. Ia memaksa maut menjadi sekadar kompos bagi pertumbuhan yang baru.

Kini, Ashera tidak lagi duduk di singgasana, melainkan menjadi substrat kehidupan itu sendiri. Ia adalah kekuatan di dalam lumpur, darah dalam kelahiran, dan tunas hijau yang menembus salju. Ia membuktikan bahwa kehidupan tidak mengalahkan kematian dengan menghancurkannya, tetapi dengan menjadikannya bagian dari siklus yang tak terputus.