Dewa Ares
Di dalam aula marmer Olympus yang dingin, nama Ares jarang diucapkan dengan pemujaan; ia lebih sering dibisikkan dengan ketakutan atau diludahkan sebagai kutukan di tengah parit yang berlumuran darah. Namun, untuk memahami sang Dewa, kita tidak boleh hanya melihat pedangnya yang berkarat, melainkan harus menengok jauh ke belakang, ke saat ketika detak jantung pertama peperangan mulai berdenyut.
Sebelum ada tembok kota atau batas wilayah, dunia adalah hamparan keheningan yang rapuh. Mitos kuno menceritakan bahwa Ares tidak lahir dari penyatuan biologis antara Zeus dan Hera, melainkan dari retakan pertama dalam tatanan surgawi.
Konon, ketika Zeus mengonsolidasikan kekuasaannya dengan petir, ada sisa-sisa energi kekerasan murni yang tidak bisa dijinakkan oleh hukum atau logika. Hera, yang saat itu merasakan kecemburuan membara dan ambisi yang terabaikan, menghirup uap dari kawah pegunungan yang paling dalam—tempat di mana besi mentah pertama kali membeku. Dari napas yang panas dan keinginan untuk memiliki pelindung yang tak tergoyahkan, disitulah Ares terlahir.
Saat ia pertama kali menghirup udara, langit berubah warna menjadi tembaga yang terbakar. Tidak seperti Athena yang lahir dari kepala Zeus dengan kebijaksanaan perang yang terukur, Ares lahir dari rahim dengan teriakan perang (Alala) yang memecah kesunyian primordial. Ia adalah manifestasi dari insting bertahan hidup yang berubah menjadi agresi murni.
Ares bukanlah dewa strategi; karena itu adalah domain saudara perempuannya. Ares adalah semangat/spirit pertempuran itu sendiri. Kekuatannya tidak terletak pada peta atau rencana pengepungan, melainkan pada:
-
Ekstasi Pertempuran: Kemampuan untuk mengubah manusia yang beradab menjadi binatang buas dalam hitungan detik.
-
Ketidakteraturan Kosmik: Ia adalah pengingat bahwa hukum setinggi apa pun dapat dihancurkan oleh kekerasan fisik.
-
Simbolisme Besi: Dalam tradisi lisan, ia disebut sebagai “Dewa yang Tak Pernah Lelah,” yang jejak kakinya meninggalkan bau belerang dan logam yang teroksidasi.
Tujuannya dalam tatanan dunia adalah sebagai katalisator kehancuran yang pasti. Tanpa Ares, dunia akan stagnan dalam kedamaian yang palsu. Ia adalah api yang membakar hutan agar tunas baru bisa tumbuh, meskipun ia sendiri tidak peduli pada tunas tersebut; ia hanya peduli pada kobaran apinya.
Reputasi Ares sebagai dewa yang kejam dan tak terduga dikukuhkan dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Prahara Thrace.” Di tanah yang liar dan dingin itu, Ares membangun istananya dari tulang-belulang raksasa dan dinding yang bergetar karena jeritan angin.
Dikisahkan bahwa kaum fana mulai melupakan rasa takut mereka pada dewa, membangun tembok yang mereka klaim tak tertembus bahkan oleh takdir. Ares, yang merasa terhina oleh keangkuhan manusia yang merasa “aman,” turun ke bumi. Namun, ia tidak datang sendirian. Ia menunggangi kereta perang yang ditarik oleh empat kuda bernapas api: Aithon (Emas), Phlogios (Api), Konabos (Gemerincing), dan Phobos (Ketakutan).
Dalam satu malam, ia tidak hanya menghancurkan kota tersebut, tetapi ia mengubah tanahnya menjadi merah permanen. Peristiwa ini menjadi bukti bagi para dewa lain bahwa Ares tidak memiliki kesetiaan pada sisi mana pun—ia mencintai peperangan demi peperangan itu sendiri. Konflik ini menciptakan retakan permanen antara dirinya dan dewa-dewa “beradab” lainnya yang melihatnya sebagai monster yang lepas kendali.
Hubungan Ares dengan entitas lain adalah studi tentang kontradiksi manusia:
-
Aphrodite (Gairah dan Kekerasan): Hubungan mereka adalah simbol paling kuat dalam mitologi. Cinta dan Perang adalah dua sisi dari koin yang sama—keduanya adalah emosi yang melumpuhkan akal sehat. Di pelukan Aphrodite, Ares yang liar menjadi tenang; ini melambangkan bahwa hanya keindahan yang mampu menjinakkan kekerasan.
-
Athena (Logika vs Insting): Rivalitas mereka adalah abadi. Athena adalah perisai, Ares adalah pedang. Dalam setiap pertemuan, Athena biasanya unggul karena ia menggunakan pikiran, namun Ares selalu kembali, karena emosi manusia akan selalu lebih cepat meledak daripada logika mereka.
-
Anak-anaknya (Phobos dan Deimos): Ke mana pun Ares pergi, ia didampingi oleh putra-putranya, Rasa Takut dan Teror. Ini menunjukkan filosofi bahwa kekerasan tidak pernah datang sendirian; ia selalu membawa dampak psikologis yang menghancurkan.
Bagi manusia, Ares adalah dewa yang paling tidak dicintai namun paling sering dipanggil di saat-saat terakhir kehidupan mereka. Mereka membangun kuil untuknya di luar tembok kota, seolah-olah ingin menjaga agar kekerasan tidak masuk ke dalam rumah mereka.
Keberadaan Ares membawa pesan filosofis yang gelap namun jujur: Kekerasan adalah bagian inheren dari alam semesta.
Ares mewakili sisi “liar” dari maskulinitas dan kemanusiaan—kekuatan fisik yang mentah, kemarahan yang tak terkendali, dan dorongan untuk menaklukkan. Secara simbolis, ia adalah pengingat bahwa di bawah lapisan tipis peradaban dan hukum, terdapat insting purba yang siap meledak.
Dalam tradisi kuno, Ares sering dianggap sebagai “Dewa yang Terluka.” Ia adalah satu-satunya dewa yang sering digambarkan merasakan sakit fisik dan kekalahan (seperti saat ia dikurung dalam bejana perunggu oleh raksasa Aloadae). Ini melambangkan bahwa kekerasan selalu melukai pelakunya sendiri semudah ia melukai korbannya.
Hingga hari ini, jejak Ares tetap ada. Bukan lagi dalam bentuk pedang perunggu, melainkan dalam dentuman artileri dan kemarahan di media sosial. Ia adalah personifikasi dari konflik yang tidak rasional. Namun, dalam kearifan lisan yang lebih dalam, Ares juga dipandang sebagai pelindung keberanian. Tanpa energi “Ares” di dalam diri, seseorang tidak akan memiliki kekuatan untuk bangkit melawan penindasan.
Ia adalah api yang merusak, tetapi juga api yang menempa baja.