Adrammelech dalam Goetia Demon
Di pusat kekacauan kosmik yang bergolak, lahir Adrammelech, sebagai bayangan yang haus akan kehormatan dan api. Namanya memiliki arti “Yang Agung adalah Raja” atau “Raja yang Megah”—sebuah gelar yang ia rebut dari entitas yang mewakili kegelapan, ketika kekosongan pertama kali merasakan iri hati terhadap cahaya yang akan datang.
Pada masa ketika langit masih berupa lautan api dan abu, para entitas primordial membentuk tatanan dunia. Ada Anu, langit yang tak tergoyahkan; Enlil, angin yang menghukum; dan Ea, air kebijaksanaan yang tersembunyi. Namun di antara mereka muncul retakan—sebuah celah di mana ambisi terlahir. Dari retakan itu, Adrammelech terwujud. Ia adalah percikan pertama dari api matahari yang terlalu panas, yang menolak menjadi pelayan cahaya biasa. Ia ingin menjadi raja atas cahaya. Tubuhnya terbentuk dari emas cair yang membeku menjadi bulu-bulu merak yang berkilauan seperti ribuan matahari kecil, namun kepalanya adalah kepala keledai liar—simbol keras kepala dan keangkuhan yang menolak tunduk. Matanya menyala seperti bara yang tak pernah padam, dan suaranya bergema seperti gemuruh tungku pembakaran.
Adrammelech tidak puas hanya menjadi dewa matahari biasa. Ia mengklaim dirinya sebagai Raja Api yang Menyucikan, yang tugasnya adalah membersihkan dunia melalui penghakiman api. Kekuatannya mengubah segala yang fana menjadi abu suci: ia bisa membakar jiwa tanpa menyentuh tubuh, membuat manusia merasakan panas dosa mereka sendiri hingga tulang mereka. Baginya tujuan dia mulia—ia percaya bahwa hanya melalui api penderitaan yang besar, dunia bisa mencapai kemurnian sempurna. Namun, kemurnian yang ia tawarkan adalah kemurnian kematian, kemurnian kehampaan.
Di tanah Sepharvaim kuno, di tepi sungai yang kini telah lenyap ditelan pasir, penduduknya—yang diusir dari tanah asal mereka oleh tangan besi Asyur—mengenal Adrammelech sebagai Tuhan atau Dewa yang senang menerima persembahan anak-anak dengan cara dibakar. Mereka membangun altar tinggi dari batu hitam yang mengkilap seperti obsidian, dan di sana mereka meletakkan bayi-bayi mereka yang masih hidup ke dalam pelukan patung berwajah keledai dan berbulu merak. Api dinyalakan bukan dengan kayu biasa, melainkan dengan tulang leluhur yang telah dikeringkan. Asap yang naik membentuk wajah Adrammelech di langit, dan suara jeritan bayi-bayi itu dianggap sebagai nyanyian pujian tertinggi. Mereka percaya bahwa setiap nyawa yang dikorbankan adalah benih yang ditanam di tubuh Adrammelech, membuatnya semakin kuat, semakin dekat dengan takhta kosmik yang ia idamkan.
Anammelech, saudari gelapnya yang mewakili bulan pucat dan dingin, berdiri di sisinya. Bersama mereka membentuk dualitas yang mengerikan: api dan kegelapan, pembakaran dan pembekuan jiwa. Manusia Sepharvaim menyebut mereka “Raja Api dan Ratu Abu”, dan ritual mereka menjadi legenda yang ditakuti bahkan oleh bangsa-bangsa tetangga. Para tetua lisan berkata: “Jika kau mendengar tangisan bayi di malam yang terlalu panas, jangan mendekat—itu adalah undangan Adrammelech untuk menjamu dirinya dengan ketakutanmu.”
Ketika kerajaan Asyur mencapai puncak kekuasaannya di bawah Sennacherib, dewa itu mulai merasakan bahwa ia tidak lagi disembah sebagai raja tertinggi. Manusia mulai memuja Nisroch, dewa elang yang lebih lembut, dan Baal yang lebih murah hati. Kemarahan Adrammelech membara. Ia merasuki dua putra Sennacherib—Adrammelech dan Sharezer—membuat mereka melihat ayah mereka sebagai penghalang menuju kekuasaan abadi. Di dalam kuil Nisroch, ketika raja sedang bersujud, kedua putra itu menusuknya dengan pedang yang telah diberkati dengan darah korban anak-anak. Darah Sennacherib mengalir ke lantai kuil, dan di situlah Adrammelech tertawa pertama kalinya dengan suara yang menggetarkan bumi. Namun pembunuhan itu tidak membawanya ke takhta duniawi; malah membuatnya semakin terperangkap dalam kegelapan.
Ketika agama baru muncul dari tanah Kanaan dan Yehuda, para nabi mulai menyebutnya bukan lagi sebagai dewa, melainkan sebagai iblis yang jatuh. Dalam kitab suci mereka, namanya dicatat sebagai peringatan: dewa yang menuntut darah anak-anak bukanlah suci, melainkan najis. Adrammelech, yang pernah menjadi matahari yang diagungkan, kini diusir ke dalam neraka. Di sana, dalam hierarki kegelapan yang baru, ia naik pangkat menjadi Kanselir Agung Neraka, Presiden Dewan Tinggi Iblis, dan pengawas lemari pakaian sang Penguasa Kegelapan. Ia mengenakan jubah dari bulu merak yang telah terbakar, dan setiap helai bulunya menyimpan jeritan korban-korban masa lalu.
Dalam puisi epik surga yang hilang, ia muncul sebagai malaikat jatuh yang gagah, namun akhirnya dikalahkan oleh Uriel dan Rafael—cahaya yang murni menghancurkan api yang tercemar. Namun bahkan dalam kekalahan, reputasinya tetap hidup. Para penyihir di malam gelap memanggilnya dengan nama rahasia “Andrealphus”, memohon untuk diberikan pengetahuan tentang transformasi api menjadi kekuatan.
Warisan Adrammelech hidup hingga ribuan tahun kemudian, dibawa oleh para pengembara di padang pasir, para pendeta rahasia di gua-gua Mesopotamia, dan para penutur cerita di malam yang dingin. Ia menjadi simbol filsafat paling gelap: bahwa ambisi untuk menjadi sempurna melalui penghancuran justru melahirkan kehancuran itu sendiri. Ia mengajarkan bahwa api yang dimaksudkan untuk menyucikan bisa menjadi api yang membakar penciptanya. Setiap kali seorang anak menangis di malam yang terlalu panas, para tetua masih berbisik:
“Hati-hati… Adrammelech sedang mendengarkan. Ia masih haus akan nyanyian pujian dari darah yang tak berdosa.”
Dan di suatu tempat di antara bintang-bintang yang redup, bulu meraknya masih berkilau, menunggu altar baru, menunggu api baru, menunggu raja baru yang akan ia mahkotai dengan abu.