Heimdall Dewa Penjaga Jembatan Bifrost Yang Tidak Pernah Tidur

Heimdallr atau Heimdall, sang dewa penjaga Jembatan Bifröst di Ásgardr dan tergolong pula sebagai Æsir. Dia memiliki daya pendengaran dan penglihatan yang super tajam, yang siang-malam tidak pernah tidur yang bertugas menjaga Jembatan Bifröst, satu-satunya pintu masuk menuju Ásgardr dan jalan menuju kedelapan dunia lainnya. Hal ini untuk mencegah agar para raksasa Jötnar dari dunia-dunia bawah yang hendak menyusup ke dalam Ásgardr. Heimdallr dikenal sebagai tanpa dosa, begitu suci dan murni bagaikan warna putih, sehingga dia dijuluki sebagai Hvítastr Ás, “Ás Terputih” (The Whitest As). Dia adalah anak dari sembilan dewi raksasa wanita yang semuanya bersaudari, sehingga Heimdallr punya sembilan ibu. Senjata andalan Heimdallr adalah pedang yang disebut Hofund. Karena dia merupakan dewa garda depan, maka dia memiliki sangkakala yang disebut Gjallárhorn. Dengan Gjallárhorn pula, dia mengaba-aba genderang perang Ragnarök. Sementara itu kendaraannya adalah seekor kuda astral bernama Gulltopp. Aula pribadinya di Ásgardr disebut Himinbjörg (tebing bukit) yang terletak di ujung depan Asgard dimana Jembatan Bifröst terletak pula di sana.

Konon, Heimdallr sering turun ke Midgardr dan menjelma sebagai sosok pria pengembara dengan nama Ríg. Dalam beberapa saga di “Prose Edda” dan di “Poetic Edda” (terutama di puisi Rígsþula/Rígsthula/Keturunan Ríg), diterangkan bahwa Ríg merupakan pria pengembara jelmaan dewa Heimdallr. Ríg sering mendatangi wanita manusia dan mengawininya, entah itu siang atau malam hari. Tujuan Ríg bukanlah untuk hasrat seksual melainkan untuk melahirkan putra-putri petarung yang tangguh dan akan menjadi pahlawan bagi Bangsa Nordik. Beberapa di antara pejuang Vikingár dari kalangan Berserker (petarung elit berbadan besar dan kuat) dan Skjaldmær (petarung wanita) adalah putra-putri Ríg yang disebut Rígsthula. Menurut urban legend, banyak gadis yang hamil tidak diketahui siapa yang menghamili. Dalam beberapa kasus, ada suami yang memperkarakan kasus perselingkuhan istrinya dengan seorang pria bernama Ríg. Para Járl (Bangsawan/Earl) memvonis para wanita yang dihamili Ríg tidak bersalah karena yang menghamilinya adalah dewa, para suami harus bangga dengan kehamilannya.

Musuh bebuyutan dewa Heimdallr adalah dewa Loki. Dewa Loki sangat berobsesi menipu, terobsesi pula oleh kalung emas milik dewi Vanir Freya yang disebut Brísingamen, dan juga berobsesi untuk menyusup keluar dari Asgard tanpa sepengetahuan Heimdallr. Namun Heimdallr tidak pernah sekalipun terperangkap tipu daya Loki. Pada perang akhir zaman Ragnarök kelak, Heimdallr dengan menunggang kudanya Gulltopp dan senjatanya Hofund, akan bertempur dengan Loki untuk melindungi Brísingamen yang hendak dirampas Loki. Dalam pertempuran itu, keduanya sama-sama tewas.

“Heimdall blows Gjallarhorn”(1895) karya Lorenz Frølich
Heimdallr sedang meniup sangkakalanya Gjallárhorn


“Rig in Great-grandfather’s Cottage” (1908) karya William Collingwood
Ríg sang pengembara sedang mendongeng


Salah satu relief pada Tugu Nisan Gosforth Cross di Inggris circa abad 9 M yang memuat figur Heimdallr dan Gjallárhorn