Sitri: Sang Pangeran Hasrat

Pada masa ketika Surga dan Neraka masih saling bertaut seperti dua sisi mata uang yang sama, lahirlah Sitri. Ia tidak dilahirkan, melainkan dari tetesan api yang jatuh dari sayap Lucifer saat Sang Bintang Pagi pertama kali memberontak. Tetesan itu mendarat di tanah Neraka yang masih lunak, bercampur dengan embun darah para malaikat yang jatuh. Dari perpaduan itu muncul seekor makhluk berkepala macan tutul, bermata zamrud, bersayap griffin yang berbulu emas. Ia merangkak keluar dari retakan bumi dengan raungan yang bukan marah, melainkan rindu—rindu akan sentuhan, akan kehangatan kulit, akan detak jantung yang saling memanggil.

Para sesepuh Neraka menyebutnya Sitri, yang dalam bahasa kuno berarti “Pembawa Rindu yang Tak Terucap”. Ia bukan raja, melainkan pangeran yang memerintah dengan bisikan. Kekuatannya bukan menghancurkan, melainkan membuka—membuka pintu-pintu rahasia di dalam dada manusia, membuka selubung malu, membuka selaput tipis antara “keharusan” dan “keinginan”. Ia bisa membuat seorang hermit/pertapa di gua gunung tiba-tiba teringat wajah kekasih yang telah lama terkubur dalam ingatan. Ia bisa membuat ratu yang angkuh menundukkan kepala saat seorang pengembara tanpa nama melewatinya di pasar.

Di awal masa, Sitri berteman dengan Lilith, ibu para succubus dan incubus. Lilith mengajarinya bahwa hasrat bukan dosa, melainkan api yang sama yang digunakan Tuhan untuk mencipta. “Api yang membakar juga yang menghangatkan,” katanya sambil mengelus bulu macan tutul di leher Sitri. Bersama-sama mereka menari di tepi Danau Api, mengirimkan mimpi-mimpi erotis ke dunia manusia yang baru lahir. Manusia pertama yang merasakan sentuhan Sitri adalah seorang gembala muda di dataran Mesopotamia. Malam itu ia bermimpi tentang seorang wanita yang tak pernah ia lihat sebelumnya, dan ketika ia bangun, ia menemukan dirinya berjalan tanpa sadar menuju kampung tetangga—di mana wanita itu benar-benar ada, menunggunya di bawah pohon kurma.

Namun keindahan kekuatan Sitri juga menjadi kutukan baginya. Para malaikat Surga, yang dipimpin oleh Gabriel sang Pembawa Pesan, melihat hasrat sebagai ancaman terhadap keteraturan. Mereka menganggap cinta yang bebas sebagai kekacauan, sebagai retakan di dinding disiplin yang mereka bangun. Maka dimulailah Perang Hasrat Besar—pertempuran yang tidak diperangi dengan tombak, melainkan dengan godaan dan penolakan.

Klimaks perang terjadi di Lembah Api Biru, sebuah tempat di lapisan ketujuh Neraka yang terbuat dari kristal es yang terbakar. Gabriel turun dengan pasukan seribu malaikat, sayap mereka memancarkan cahaya yang membutakan. Sitri berdiri sendirian di tengah lembah, tubuhnya masih berwujud macan tutul raksasa. Ia tidak mengangkat senjata. Ia hanya bernyanyi—suara yang lembut seperti angin musim semi, namun membawa aroma bunga liar dan keringat malam. Satu per satu, malaikat-malaikat mulai ragu. Sayap mereka gemetar. Beberapa di antara mereka menangis tanpa tahu mengapa. Seorang malaikat muda bernama Cassiel bahkan melepaskan tombaknya dan berlutut di hadapan Sitri, memohon agar diizinkan merasakan apa yang dirasakan manusia.

Gabriel marah. Ia mengangkat terompetnya dan meniup nada yang memecah kristal es menjadi serpihan. Sitri terluka parah. Sayap griffin-nya robek, darah emas mengalir dari tubuhnya. Dalam keputusasaan, ia merubah wujudnya menjadi manusia—seorang pemuda tampan berambut hitam bergelombang, bermata hijau yang dalam, berbibir yang selalu seperti baru saja berbisik rahasia. Dalam wujud ini ia memeluk Cassiel, dan untuk sesaat, cahaya dan bayangan menjadi satu.

Gabriel mengutuk Sitri. Ia tidak membunuhnya—karena bahkan malaikat pun tahu bahwa hasrat tidak bisa dibunuh—melainkan mengikatnya dengan rantai yang terbuat dari kata-kata “malu” dan “dosa”. Rantai itu tidak terlihat, tetapi setiap kali manusia merasakan hasrat dan kemudian menyangkalnya, rantai itu semakin kuat. Sitri dikurung di Istana Kaca Hitam di lapisan kedelapan Neraka, tempat cermin-cermin memantulkan keinginan yang tak pernah terpenuhi.

Namun Sitri tidak pernah benar-benar terkurung. Setiap malam, ketika manusia berbaring di tempat tidur mereka, ia mengirimkan anak-anaknya—para roh kecil berwujud kupu-kupu api—untuk menyelinap ke dalam mimpi. Mereka membisikkan nama-nama yang telah lama dilupakan, membangkitkan aroma kulit yang pernah disentuh, mengingatkan bahwa tubuh ini bukan hanya vessel dari jiwa, melainkan juga rumah bagi api yang hidup.

Di berbagai penjuru dunia, cerita tentang Sitri berubah bentuk. Di Jawa kuno, para empu wayang kulit menggambarkannya sebagai Begawan yang tampan namun selalu sendirian di pertapaan, meratap karena cintanya pada bidadari yang tak pernah bisa ia miliki sepenuhnya. Di Mesopotamia, ia dikenal sebagai dewa Inanna yang memiliki sisi gelap, yang memberikan karunia cinta namun juga kesedihan perpisahan. Di Eropa abad pertengahan, para penyihir memanggilnya dalam ritual dengan nama Sitri dengan membuat lingkaran garam dan mawar, memohon agar kekasih mereka kembali atau agar musuh jatuh cinta pada mereka.

Filosofi yang terkandung dalam keberadaan Sitri adalah ini: hasrat adalah pedang bermata dua. Ia bisa membawa manusia pada keindahan tertinggi—seni, puisi, kelahiran anak, persatuan jiwa—namun juga pada kehancuran terdalam—kecemburuan, perang karena cinta, pengkhianatan. Sitri mengajarkan bahwa menyangkal hasrat sama berbahayanya dengan menyerahkan diri sepenuhnya padanya. Keseimbangan adalah kunci: mengakui api tanpa membiarkannya membakar rumah.

Hingga kini, ketika seorang pemuda di kampung terpencil tiba-tiba merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat seseorang di pasar sore, atau ketika seorang janda tua tersenyum mengenang masa muda saat mencium aroma bunga kamboja—di saat-saat itu, Sitri masih ada. Ia tidak lagi meronta melawan rantai malu yang mengikatnya, karena ia tahu: setiap kali manusia berani mencinta, meski hanya sesaat, rantai itu sedikit longgar. Dan suatu hari nanti, ketika dunia sudah cukup berani untuk merangkul hasrat tanpa rasa takut, Sitri akan bebas sepenuhnya—bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengajak semua makhluk menari dalam api yang hangat, api yang sama yang pernah menciptakan bintang-bintang.

Demikianlah cerita tentang Sitri, Sang Pangeran Hasrat, yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari api unggun ke api unggun, selama ribuan tahun—sebuah pengingat bahwa di dalam setiap dada manusia, ada sepotong Neraka yang indah, dan sepotong Surga yang liar.