Vafthrudnir Raksasa Yang Paling Bijaksana

Vafthrúdnir (Vafþrúðnir, penjahit yang perkasa), sang raksasa yang bijaksana dan kaya akan pengetahuan. Jika Mímir adalah Norn yang paling bijaksana, maka Vafthrúdnir adalah Jötunn yang paling bijaksana. Dalam puisi Vafþrúðnismál di “Poetic Edda”, ketika dia sedang berkontemplasi (merenung dan bertapa/berpikir) di tempat para raksasa, mungkin Jötunheimr, dewi Frigga menyarankannya untuk waspada karena tidak ada satupun Jötunn yang seperti dirinya.

Kemudian Frigga melantunkan sajak pujian untuknya bahwa dia adalah sang Jötunn yang cerdas dan perkasa. Selain itu, tidak ada lagi deskripsi tentang dirinya di “Poetic Edda”.

Pada puisi tsb, diterangkan bahwa dewa Odin hendak menguji pengetahuan Vafthrúdnir melalui permainan tanya-jawab dimana Odin memberi pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuknya. Jika dia berhasil menjawab satu pertanyaan dengan tepat, dia diberi kesempatan yang sama dengan menanyakan hal-hal yang rumit kepada Odin. Odin pun menyamar sebagai seorang pengelana yang bernama Gagnrad dan menemui Vafthrúdnir. Vafthrúdnir tertarik mengikuti permainan tanya-jawab ini dan dia yakin semua pertanyaan dapat dia jawab. Gangrad menanyakan tentang asal-usul Himinn (langit) dan Jörd (bumi), Vafthrúdnir menjawab dengan tepat bahwa keduanya berasal dari jasad Ymir.

Gangrad juga menanyakan asal-usul Nótt (malam) dan Daģr (hari/siang), Vafthrúdnir juga menjawab dengan tepat bahwa keduanya berasal dari Mundilfari. Gangrad kemudian menanyakan semua hal yang lebih rumit lagi, tentang Bergelmir, Aurgelmir, Hræsvelg, Njördr, einherjar, Niflheimr, Fenrir, Álfastar, Thjazi, dan juga tentang Ragnarök. Dengan memuaskan, semuanya dijawab oleh Vafthrúdnir.

Gangnar kemudian memberi pertanyaan terakhir yang cukup licik: “apa yang akan dibisikkan Odin kepada mayat Balder sebelum dimakamkan?”. Tentu saja Vafthrúdnir tidak tahu. Bahkan dia baru menyadari bahwa hanya itulah yang tidak dia ketahui. Akhirnya Gangnar membuka jati dirinya sebagai Odin. Setelah itu Vafthrúdnir baru menyadari bahwa lawan mainnya adalah sang penguasa sembilan dunia dan hanya dialah yang tahu apa yang akan dia bisikkan kepada mayat Balder. Vafthrúdnir mengakui kekalahannya dalam permainan yang “licik” ini.